grilleonesixteen.com – Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Nasir, menekankan peran penting dialog lintas budaya dan keyakinan dalam memperkuat toleransi, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI). Pernyataan tersebut disampaikan dalam jamuan malam Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diadakan oleh Institut Leimena di Jakarta pada Selasa malam.
Dalam acara tersebut, Wamenlu menjelaskan bahwa meskipun teknologi memfasilitasi komunikasi yang lebih mudah dan cepat, membangun pemahaman antarperadaban tetap membutuhkan waktu. Dia menambahkan bahwa AI memiliki pengaruh signifikan dalam memproses informasi yang diterima oleh manusia, yang dapat membentuk opini dan emosi individu. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memajukan toleransi, bukan sebaliknya.
Politik luar negeri Indonesia, lanjutnya, berfokus pada upaya menciptakan perdamaian dan moderasi, salah satunya melalui partisipasi dalam Aliansi Peradaban Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNAOC). Sebagai contoh, Indonesia pernah menjadi tuan rumah Forum Global UNAOC di Bali pada tahun 2014, yang menegaskan pentingnya dialog, toleransi, dan inklusivitas.
Arrmanatha juga menyoroti upaya ASEAN yang memasukkan dialog lintas budaya dan agama dalam Visi ASEAN 2045, dengan menekankan bahwa keberagaman harus dipandang sebagai sumber daya. Ia meyakini bahwa konferensi seperti LKLB dapat membantu menavigasi perbedaan secara konstruktif.
Wamenlu menegaskan komitmen Kementerian Luar Negeri RI untuk terus mendorong dialog dan moderasi di tingkat global, dengan harapan bahwa perdamaian dapat terwujud melalui saling pemahaman antar umat manusia.