grilleonesixteen.com – Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menegaskan pentingnya sekolah menciptakan lingkungan yang aman bagi siswa yang mengalami kecemasan atau trauma. Pernyataan ini muncul setelah insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta. Novi mengusulkan adanya konsep “Ruang Jeda” sebagai waktu tenang bagi siswa dan guru sebelum memulai pelajaran, setelah jam istirahat, dan menjelang pulang sekolah.
Menurutnya, praktik meditasi sebentar dapat membantu siswa untuk menenangkan diri dan mengurangi kecemasan. Tanda-tanda trauma yang mungkin muncul pada anak antara lain ketakutan yang berlebihan, penarikan diri, dan perilaku agresif. Namun, ada juga anak yang menunjukkan keceriaan berlebihan sebagai cara untuk menutupi perasaan mereka.
Novi menyarankan agar sekolah melaksanakan berbagai kegiatan Social Emotional Learning (SEL) seperti melukis, musik, atau dialog kelompok kecil untuk membantu siswa menyalurkan emosinya secara sehat. Kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua juga dianggap krusial. Kegiatan SEL dapat digunakan sebagai catatan perkembangan emosional yang dibahas bersama wali murid.
Ia menambahkan, pemulihan setelah trauma tidak hanya terkait dengan akademik, melainkan juga memberikan ruang bagi anak untuk terhubung dengan Tuhan, sesama, dan alam, sehingga mereka dapat tumbuh dengan lebih percaya diri dan empati. Jika gejala trauma semakin berat, segera konsultasi dengan psikolog sangat dianjurkan.
Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan bahwa proses belajar belajar mengajar di SMAN 72 Jakarta sudah berlangsung lebih kondusif secara daring dengan dukungan psikososial awal. Sebanyak 56 psikolog dari berbagai lembaga akan mendampingi kegiatan psikososial ini, yang bertujuan untuk membantu siswa mengatasi trauma pascabencana.