grilleonesixteen.com – Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya kewaspadaan nasional untuk menghadapi dinamika dan ketegangan politik global yang kian kompleks. Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 yang berlangsung di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin, Prabowo mengingatkan sejarah panjang Republik Indonesia yang terjalin dengan konflik ideologis global sejak awal berdiri.
Menurut Prabowo, dunia saat ini sedang berada dalam pusaran peperangan ideologi, terbelah antara blok-blok yang berbeda, termasuk komunis dan anti-komunis. Ia menyebutkan bahwa konflik internasional, seperti perang di Ukraina dan krisis kemanusiaan di Gaza, berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi serta keamanan nasional Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk memahami tantangan global yang dihadapi saat ini secara mendalam.
Presiden juga berbagi pengalamannya sejak mengikuti berbagai pertemuan internasional, termasuk World Economic Forum di Davos, Swiss, di mana para pemimpin dunia mengungkapkan kekhawatiran mengenai kemungkinan pecahnya Perang Dunia Ketiga. “Hampir semua pemimpin dunia merisaukan kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga,” ungkapnya.
Dalam konteks ini, Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif dan nonblok. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan bergabung dalam pakta militer manapun dan akan terus memprioritaskan hubungan persahabatan dengan berbagai bangsa. Filosofi yang disampaikannya adalah, “Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” menandakan strategi diplomasi yang ingin diusung oleh Indonesia di tengah ketegangan global saat ini.