grilleonesixteen.com – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menolak penunjukan guru sebagai Penanggung Jawab Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. P2G menggarisbawahi bahwa tanggung jawab utama guru adalah mengajar, bukan mempertaruhkan keselamatan mereka dalam mendeteksi makanan yang berpotensi beracun.
Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri, menegaskan bahwa Surat Edaran Nomor 5 Tahun 2025 dari Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai pemberian insentif bagi guru dalam program ini terlihat sebagai bentuk pengalihan tanggung jawab. Hal ini menyoroti keprihatinan atas meningkatnya kasus keracunan makanan yang berkaitan dengan MBG.
Iman mengungkapkan bahwa penyerahan tanggung jawab kepada guru dapat memicu lebih banyak masalah, terutama mengingat adanya laporan mengenai 75 kasus keracunan yang melibatkan sekitar 6.000 siswa dalam rentang waktu Januari hingga September 2025. P2G menilai bahwa BGN seharusnya berfokus pada evaluasi dan perbaikan sistem, termasuk dari segi regulasi, keamanan, dan kebersihan makanan yang disuplai.
P2G juga telah mengusulkan agar program MBG dievaluasi atau dihentikan sementara. Usulan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi serta memperbaiki berbagai kendala yang ada, seperti kelayakan vendor dan risiko lainnya yang dapat membahayakan kesehatan siswa.
Kekhawatiran ini mencerminkan perlunya penanganan yang lebih mendalam terkait program gizi di sekolah, demi memastikan keselamatan dan kesehatan anak-anak. P2G berharap agar BGN serius menanggapi isu ini serta melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah keracunan di masa depan.