grilleonesixteen.com – Potensi batu bara kalori rendah-sedang di Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai sangat besar dan dapat dikembangkan melalui proses gasifikasi untuk mendukung hilirisasi komoditas ini. Hal tersebut diungkapkan oleh Agus Winarno, akademisi dari Universitas Mulawarman (Unmul), saat memberikan penjelasan terkait cadangan batu bara di provinsi tersebut.
Kalimantan Timur merupakan provinsi dengan cadangan batu bara terbesar di Indonesia, yang mencapai 11,87 miliar ton atau sekitar 37,14 persen dari total cadangan nasional. Agus menambahkan bahwa sekitar 75 persen dari jumlah tersebut merupakan batu bara dengan kalori rendah. Kondisi ini menciptakan peluang strategis untuk meningkatkan nilai tambah batu bara melalui program hilirisasi.
Salah satu teknologi yang diungkapkan Agus adalah gasifikasi, yang dapat mengubah batu bara menjadi gas sintetik (syngas). Hasilnya bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti metanol, Dimethyl Ether (DME), amonia, dan hidrogen. Pengembangan hilirisasi batu bara juga telah diatur dalam regulasi pemerintah, termasuk dalam Undang-Undang Minerba.
Agus mencatat bahwa saat ini terdapat beberapa proyek hilirisasi batu bara dalam tahap perencanaan atau konstruksi di Kaltim. Misalnya, proyek Coal to Methanol oleh PT KPC dan PT KNC yang ditargetkan memproduksi 1,8 juta ton metanol per tahun, serta proyek Coal to Ammonia yang dikerjakan oleh PT Kideco Jaya Agung dengan target 100 ribu ton amonia per tahun.
Agus juga mendorong perlunya penelitian lebih lanjut mengenai gasifikasi batu bara di Cekungan Kutai. Ia meyakini bahwa optimalisasi teknologi ini akan mendukung kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.