grilleonesixteen.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menginformasikan bahwa tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun yang lebih aktif untuk penghimpunan dana di pasar modal Indonesia. Ini didasarkan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang positif, stabilitas makroekonomi, dan peningkatan likuiditas di sistem keuangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menyatakan bahwa kondisi ini berpotensi mendorong aktivitas emisi yang lebih besar, termasuk penawaran umum perdana (IPO), penerbitan obligasi, dan aksi korporasi lainnya. Dalam upaya mendukung peningkatan ini, OJK sedang mengkaji pengembangan instrumen pasar, termasuk exchange traded fund (ETF) berbasis emas, sebagai bagian dari strategi memperdalam pasar dan memperluas pilihan investasi.
OJK juga menekankan pentingnya partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak perusahaannya dalam pasar modal, yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan likuiditas dan diversifikasi instrumen investasi. Untuk itu, OJK terus melaksanakan program pendalaman pasar melalui kolaborasi dengan organisasi yang mengatur pasar dan pelaku pasar modal.
Dalam upaya mendorong IPO, OJK melakukan sosialisasi dan diskusi dengan perusahaan-perusahaan yang bersiap melakukan penawaran umum untuk memahami proses serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi. Namun, keputusan untuk melakukan IPO sepenuhnya tergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan, sedangkan OJK berkomitmen untuk memastikan bahwa proses tersebut berlangsung profesional dan transparan.
OJK juga melakukan penyesuaian kebijakan untuk tahun 2025, dengan berfokus pada penguatan kualitas dan likuiditas pasar saham ketimbang hanya mengejar nilai penghimpunan dana. Target penghimpunan dana sebesar Rp220 triliun untuk tahun 2025 telah terlampaui dengan nilai penawaran umum mencapai Rp238,68 triliun pada akhir November 2025.