grilleonesixteen.com – Remaja kini lebih cenderung berbagi cerita dengan kecerdasan buatan (AI) dibandingkan dengan teman sebaya atau orang tua. Fenomena ini, yang terjadi di kalangan generasi Z dan Alpha, mencerminkan perubahan dalam cara remaja mengekspresikan perasaan. Menurut Dr. Yulina Eva Riany, Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) di IPB University, kemampuan AI untuk hadir selama 24 jam sebagai ‘teman virtual alami’ membuat remaja merasa lebih nyaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja menganggap AI sebagai entitas yang netral dan tidak menghakimi. Mereka lebih suka mengungkapkan emosi tanpa rasa takut dimarahi atau diejek. Dalam siaran pers yang dirilis pada Kamis (25/9/2025), Dr. Yulina menjelaskan bahwa kenyamanan ini menawarkan peluang sekaligus tantangan bagi perkembangan sosial dan emosional remaja.
Namun, fenomena ini juga menandakan adanya kesenjangan komunikasi antara remaja dengan orang tua serta lingkungan sosial mereka. Ketidakmampuan untuk terhubung secara emosional dengan orang terdekat dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan perkembangan remaja. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan masyarakat untuk memahami perubahan perilaku ini dan mencari cara untuk meningkatkan komunikasi yang lebih efektif.
Pentingnya kesadaran akan pergeseran ini menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan remaja. Diperlukan pendekatan yang kolaboratif antara teknologi dan interaksi manusia untuk memastikan bahwa kehadiran AI tidak menggantikan hubungan sosial yang sehat. Dengan demikian, diharapkan remaja dapat menjalani proses tumbuh kembang yang seimbang, dengan dukungan baik dari teknologi maupun orang-orang di sekitar mereka.