grilleonesixteen.com – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah menghentikan sementara semua kegiatan pemanfaatan dan pengangkutan kayu bulat di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Keputusan ini diambil menyusul serangkaian bencana alam berupa banjir bandang dan longsor yang terjadi pada akhir tahun 2025, yang memicu perhatian publik terkait penemuan kayu gelondongan yang hanyut terbawa arus.
Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kemenhut, Laksmi Wijayanti, menyampaikan bahwa bencana alam tersebut telah memunculkan sorotan tajam dari masyarakat dan tekanan politis terhadap sektor kehutanan. Ia menegaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem menuntut semua pihak untuk melakukan penyesuaian yang mendalam dalam pengelolaan hutan. “Sektor kehutanan tidak boleh beroperasi seperti biasa. Kita harus melakukan penyesuaian serius pada semua kegiatan yang berpotensi meningkatkan risiko bencana,” ungkapnya, dalam konferensi pers pada hari Selasa, 9 Desember 2025.
Lebih lanjut, pelaku usaha dihimbau untuk melakukan evaluasi terhadap Rencana Kerja Tahunan (RKT), dengan memprioritaskan keselamatan lingkungan. Kemenhut juga mengarahkan agar infrastruktur pengendalian air berfungsi dengan optimal serta memastikan tidak ada sisa tebangan yang berpotensi memicu bencana alam. Selain itu, kegiatan patroli rutin di area yang rawan longsor dan penghentian penebangan di wilayah yang terkena dampak bencana juga ditetapkan sebagai langkah wajib untuk menjaga kelestarian hutan dan masyarakat sekitar.
Melalui kebijakan ini, Kemenhut berupaya memastikan keberlanjutan sumber daya hutan sambil tetap memperhatikan keselamatan masyarakat di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.