grilleonesixteen.com – Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menegaskan pentingnya pemerintah untuk membangun kembali kepercayaan fiskal dalam menghadapi dampak negatif dari gelombang demonstrasi yang terjadi selama sepekan terakhir. Ia menyebut bahwa demonstrasi tersebut merupakan reaksi terhadap krisis legitimasi fiskal yang telah mengakumulasi keresahan masyarakat akibat memburuknya kondisi ekonomi dan menurunnya kepercayaan terhadap pemerintah.
Deni menjelaskan bahwa jika pemerintah tidak mampu mengatasi akar permasalahan, gejolak ini akan terus berulang. Ia merekomendasikan agar pemerintah menghentikan pemborosan anggaran dan mengevaluasi tunjangan serta sikap pejabat publik. Selain itu, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan anggaran perlu ditingkatkan, bersamaan dengan perbaikan layanan publik.
Dialog terbuka dengan berbagai elemen masyarakat, tidak hanya buruh tetapi juga pelaku usaha, sangat penting untuk mengurangi ketegangan. Deni menegaskan bahwa menyelesaikan permasalahan dengan menekan satu pihak, seperti pengusaha, justru akan memperburuk situasi.
Dalam paparannya, Deni juga mencatat bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi relatif stabil, distribusinya masih timpang, dengan tingkat kemiskinan menurun sementara jumlah pengangguran tetap tinggi. Sementara itu, Direktur Eksekutif CSIS, Yose Rizal Damuri, menekankan perlunya pemanfaatan instrumen fiskal yang lebih cermat, terutama selama kondisi global yang tidak menentu.
Ia mengusulkan pendekatan teknokratis dalam penyusunan kebijakan untuk memastikan kebijakan yang diambil lebih efektif. Sebagai catatan, aksi unjuk rasa yang berlangsung antara 28 hingga 31 Agustus di berbagai daerah Indonesia, beberapa di antaranya berujung kericuhan dan memakan korban jiwa dari masyarakat sipil.